eng..teng..teng… bunyi
lonceng sekolah telah berbunyi, seluruh siswa pun berlarian memasuki kelas.
“Aini gak mau masuk kelas tante, Aini takut..” kata Aini kepada tantenya.
Memang, ini merupakan hari pertama bagi Aini untuk bersekolah di SDN 18 dan itu
sangat menyeramkan baginya untuk bertemu wajah-wajah baru. “Aini gak boleh
gitu, ayo masuk katanya mau pinter dan jadi dokter.” Bujuk tantenya. “Tapi
tante harus temenin aku sampai pulang sekolah ya, tante gak boleh kemana-mana.”
Wajah Aini memelas. “Baiklah, Tante akan tetap di sini.” Kata tantenya dengan
lembut.
Di dalam kelas, Aini
tampak senang dia tak menyangka banyak yang ingin berteman dengannya. Pelajaran
berhitung terasa mudah baginya. Satu demi satu temannya banyak sehingga dia
tidak mau lagi ditemani di sekolah hingga pelajaran berakhir oleh tantenya.
Hari demi hari dilewatinya, juara kelas pun sering didapatkannya hingga sampai
lah dia di tahun akhir masa SD nya. Pada caturwulan ketiga, Aini mulai
mengalami cinta monyet, ia merasa begitu bahagia saat dia bersama dengan
temannya, Rahman. Aini memang anak yang baik, banyak teman lelaki yang suka
dengannya namun ia tetaplah anak-anak yang tak mengerti apa itu suka. Ia hanya
bisa berlari menjauh jika ada anak laki-laki yang bilang suka padanya. Suatu hari
Aini melihat Rahman kesakitan, “Man, kamu kenapa?” “Aku sakit perut Ni, aku mau
minum obat tapi gak ada minumannya.” Kata Rahman sambil kesakitan. “Ya udah,
ini minum aja minuman aku.” “Jangan Ni, ntar kamu minum apa?” “Gak apa-apa kok
Man, minum aja” Aini tersenyum pada Rahman. “Makasih banyak ya Ni.” Senyuman
Rahman membuat Aini tambah senang. Sejak saat itu Rahman dan Aini semakin
dekat, di hari ulang tahunnya Aini mendapatkan hadiah dari Rahman. Wajah
malu-malu Rahman membuat Aini tidak bisa menunjukkan ekspresi senangnya pada
Rahman, yang muncul malah wajah datar Aini. Begitu lucunya rasa suka masa
anak-anak Aini yang akhirnya sampai hari kelulusannya, Aini dan Rahman hanya
menjadi sahabat.
ahun pertama Sekolah
Menengah Pertama (SMP) mulai dilalui Aini. “Uh..ngapain nih masuk sekolah
unggulan kok orang-orangnya pada jutek ya.” Keluh Aini. Tiba-tiba datang
seorang anak perempuan, kemudian ia duduk di samping Aini. “Hai, kenalin..aku
Dita, nama kamu siapa?” “Aku Aini.” “Oh ya, ini Ayu teman aku satu SD. Kamu
dari SD mana?” Tanya Dita. “Aku dari SD 18.” “Kalau aku dari Baiturrahmah”.
Setelah mereka saling bercakap-cakap, bel pertama untuk masuk kelas berbunyi,
lalu masuklah wali kelas kami. “Pagi anak-anak. Perkenalkan saya Ibu Imar wali
kelas kalian d kelas VII.I ini. Nah sekarang kita pemilihan perangkat kelas
ya.” “Baik bu.” Jawab siswa dengan semangat. Setelah penghitungan suara
terpilihlah perangkat kelas VII.I. Ternyata Aini menjadi sekretaris untuk kelas
itu. Di mulailah hari-hari Aini sebagai siswa kelas VII d SMP tersebut.
Semester pertama dilaluinya dan Aini tidak mampu bersaing dengan siswa lain,
akhirnya dia hanya mendapat ranking 7 di semester pertama. Semester kedua,
datanglah seorang siswa baru yang berasal dari Australia, namanya Natalia. Dia
sangat cantik, banyak anak laki-laki ingin berteman dengannya. Aini sedikit
cemburu, namun ia tetap tenang karena walaupun teman laki-lakinya sedikit tapi
dia senang masih ada teman lain yang baik padanya. Di saat classmeeting yaitu kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu
luang sebelum penerimaan rapor, Aini memilih untuk mengikuti kelas seni membaca
Alquran. Sejak saat itu, Aini dikenal sebagai anak yang alim dan pendiam.
Namun, dengan kemampuannya membaca Alquran, ia berhasil memenangkan berbagai
lomba yang terkait hingga tingkat provinsi. Hal ini terus berlanjut hingga dia
tamat sekolah.
Setelah rapor semester
2 dibagikan, Aini naik ke kelas VIII saat pembagian kelas, ia duduk di kelas
VIII.7. Kabarnya kelas itu adalah kelas unggul. Oh no.. Aini mulai panik, ia
takut tambah tidak bisa berprestasi. Di kelas itu, Aini memiliki teman dan
sahabat baru. Aini berteman dekat dengan anak terpintar di kelas itu Dira
namanya. Aini sering belajar bersamanya, sering ke rumahnya. Hingga tanpa
disangka, Aini mendapat ranking 3 saat semester 1 kelas VIII, menakjubkan. Aini
juga memiliki teman lain namanya Gabin dan Rinuik. Gabin pintar sekali
menggambar, dia sangat suka dengan anime Jepang. Saat itu Detective Conan lagi
nge-trend sehingga Aini menjadi suka
dengan animasi itu. Gabin sering bercerita tentang animasi, games, dan semua
tentang Jepang kepada teman-temannya termasuk Radit dan Ridho. Aini merasa dua
anak lelaki itu aneh karena keduanya sangat fanatik dengan animasi dan berwajah
culun, ih..ga banget. Tapi Aini tidak pemilih dalam berteman, dia berteman baik
dengan mereka semua.
Rinuik adalah anak
perempuan yang energik dan pintar menari. Aini sering mengajari Rinuik tentang
pelajaran yang tidak dimengerti. Aini, Dira, dan Rinuik sering belajar bersama.
Dia memiliki pacar bernama Putra. Sejak Rinuik berpacaran, Aini merasa kenapa
dia tidak bisa berpacaran juga? Begitulah Aini, walaupun temannya banyak yang
memiliki pacar tapi dia sangat idealis dan sangat pemilih. Hmm…
Tahun 2007. Ini
merupakan tahun akhir di masa SMP. Aini harus berjuang keras karena pada tahun
itu ujian nasional adalah penentu kelulusan seseorang. Aini galau karena
kemampuan matematikanya sangat lemah. Dia pun mulai belajar dengan teman-teman
barunya di kelas IX.5 Gebong, Ginyok, Putra, dan Febri. Segala hal yang
berhubungan dengan Detective Conan ia tinggalkan. Fokus..lulus..itu impiannya.
Akhirnya Aini berhasil lulus ujian nasional dan nilai yang sangat
dikhawatirkannya yaitu matematika mendapat nilai yang sempurna. Aini sangat
senang walaupun bukan dia yang mendapatkan predikat nilai tertinggi.
Aini lulus. Aini mulai
berpikir untuk melanjutkan sekolahnya. Apakah ia akan melanjutkan ke SMA atau
SMK? Ternyata orang tuanya memilih dia untuk bersekolah di SMA karena orang
tuanya berkeinginan agar ia sampai ke jenjang S1 kelak. Aini pergi mendaftar
bersama ayahnya. SMA 1 menjadi pilihannya. Setelah pendaftaran, Aini hanya
menunggu hasil. Hari pengumuman pun tiba, Aini diterima di sekolah tersebut, ia
senang, orang tua dan keluarganya pun sangat senang. Inilah awal Aini sebagai
remaja dan menemukan dua cinta yang sangat sulit ia dapatkan dan lupakan.