Costum Search Enginge (CSE)

Loading

Rabu, 19 Maret 2014

Cerpen : Goresan Pena Aini 1

T
eng..teng..teng… bunyi lonceng sekolah telah berbunyi, seluruh siswa pun berlarian memasuki kelas. “Aini gak mau masuk kelas tante, Aini takut..” kata Aini kepada tantenya. Memang, ini merupakan hari pertama bagi Aini untuk bersekolah di SDN 18 dan itu sangat menyeramkan baginya untuk bertemu wajah-wajah baru. “Aini gak boleh gitu, ayo masuk katanya mau pinter dan jadi dokter.” Bujuk tantenya. “Tapi tante harus temenin aku sampai pulang sekolah ya, tante gak boleh kemana-mana.” Wajah Aini memelas. “Baiklah, Tante akan tetap di sini.” Kata tantenya dengan lembut.
Di dalam kelas, Aini tampak senang dia tak menyangka banyak yang ingin berteman dengannya. Pelajaran berhitung terasa mudah baginya. Satu demi satu temannya banyak sehingga dia tidak mau lagi ditemani di sekolah hingga pelajaran berakhir oleh tantenya. Hari demi hari dilewatinya, juara kelas pun sering didapatkannya hingga sampai lah dia di tahun akhir masa SD nya. Pada caturwulan ketiga, Aini mulai mengalami cinta monyet, ia merasa begitu bahagia saat dia bersama dengan temannya, Rahman. Aini memang anak yang baik, banyak teman lelaki yang suka dengannya namun ia tetaplah anak-anak yang tak mengerti apa itu suka. Ia hanya bisa berlari menjauh jika ada anak laki-laki yang bilang suka padanya. Suatu hari Aini melihat Rahman kesakitan, “Man, kamu kenapa?” “Aku sakit perut Ni, aku mau minum obat tapi gak ada minumannya.” Kata Rahman sambil kesakitan. “Ya udah, ini minum aja minuman aku.” “Jangan Ni, ntar kamu minum apa?” “Gak apa-apa kok Man, minum aja” Aini tersenyum pada Rahman. “Makasih banyak ya Ni.” Senyuman Rahman membuat Aini tambah senang. Sejak saat itu Rahman dan Aini semakin dekat, di hari ulang tahunnya Aini mendapatkan hadiah dari Rahman. Wajah malu-malu Rahman membuat Aini tidak bisa menunjukkan ekspresi senangnya pada Rahman, yang muncul malah wajah datar Aini. Begitu lucunya rasa suka masa anak-anak Aini yang akhirnya sampai hari kelulusannya, Aini dan Rahman hanya menjadi sahabat.
T
ahun pertama Sekolah Menengah Pertama (SMP) mulai dilalui Aini. “Uh..ngapain nih masuk sekolah unggulan kok orang-orangnya pada jutek ya.” Keluh Aini. Tiba-tiba datang seorang anak perempuan, kemudian ia duduk di samping Aini. “Hai, kenalin..aku Dita, nama kamu siapa?” “Aku Aini.” “Oh ya, ini Ayu teman aku satu SD. Kamu dari SD mana?” Tanya Dita. “Aku dari SD 18.” “Kalau aku dari Baiturrahmah”. Setelah mereka saling bercakap-cakap, bel pertama untuk masuk kelas berbunyi, lalu masuklah wali kelas kami. “Pagi anak-anak. Perkenalkan saya Ibu Imar wali kelas kalian d kelas VII.I ini. Nah sekarang kita pemilihan perangkat kelas ya.” “Baik bu.” Jawab siswa dengan semangat. Setelah penghitungan suara terpilihlah perangkat kelas VII.I. Ternyata Aini menjadi sekretaris untuk kelas itu. Di mulailah hari-hari Aini sebagai siswa kelas VII d SMP tersebut. Semester pertama dilaluinya dan Aini tidak mampu bersaing dengan siswa lain, akhirnya dia hanya mendapat ranking 7 di semester pertama. Semester kedua, datanglah seorang siswa baru yang berasal dari Australia, namanya Natalia. Dia sangat cantik, banyak anak laki-laki ingin berteman dengannya. Aini sedikit cemburu, namun ia tetap tenang karena walaupun teman laki-lakinya sedikit tapi dia senang masih ada teman lain yang baik padanya. Di saat classmeeting yaitu kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu luang sebelum penerimaan rapor, Aini memilih untuk mengikuti kelas seni membaca Alquran. Sejak saat itu, Aini dikenal sebagai anak yang alim dan pendiam. Namun, dengan kemampuannya membaca Alquran, ia berhasil memenangkan berbagai lomba yang terkait hingga tingkat provinsi. Hal ini terus berlanjut hingga dia tamat sekolah.
Setelah rapor semester 2 dibagikan, Aini naik ke kelas VIII saat pembagian kelas, ia duduk di kelas VIII.7. Kabarnya kelas itu adalah kelas unggul. Oh no.. Aini mulai panik, ia takut tambah tidak bisa berprestasi. Di kelas itu, Aini memiliki teman dan sahabat baru. Aini berteman dekat dengan anak terpintar di kelas itu Dira namanya. Aini sering belajar bersamanya, sering ke rumahnya. Hingga tanpa disangka, Aini mendapat ranking 3 saat semester 1 kelas VIII, menakjubkan. Aini juga memiliki teman lain namanya Gabin dan Rinuik. Gabin pintar sekali menggambar, dia sangat suka dengan anime Jepang. Saat itu Detective Conan lagi nge-trend sehingga Aini menjadi suka dengan animasi itu. Gabin sering bercerita tentang animasi, games, dan semua tentang Jepang kepada teman-temannya termasuk Radit dan Ridho. Aini merasa dua anak lelaki itu aneh karena keduanya sangat fanatik dengan animasi dan berwajah culun, ih..ga banget. Tapi Aini tidak pemilih dalam berteman, dia berteman baik dengan mereka semua.
Rinuik adalah anak perempuan yang energik dan pintar menari. Aini sering mengajari Rinuik tentang pelajaran yang tidak dimengerti. Aini, Dira, dan Rinuik sering belajar bersama. Dia memiliki pacar bernama Putra. Sejak Rinuik berpacaran, Aini merasa kenapa dia tidak bisa berpacaran juga? Begitulah Aini, walaupun temannya banyak yang memiliki pacar tapi dia sangat idealis dan sangat pemilih. Hmm…
Tahun 2007. Ini merupakan tahun akhir di masa SMP. Aini harus berjuang keras karena pada tahun itu ujian nasional adalah penentu kelulusan seseorang. Aini galau karena kemampuan matematikanya sangat lemah. Dia pun mulai belajar dengan teman-teman barunya di kelas IX.5 Gebong, Ginyok, Putra, dan Febri. Segala hal yang berhubungan dengan Detective Conan ia tinggalkan. Fokus..lulus..itu impiannya. Akhirnya Aini berhasil lulus ujian nasional dan nilai yang sangat dikhawatirkannya yaitu matematika mendapat nilai yang sempurna. Aini sangat senang walaupun bukan dia yang mendapatkan predikat nilai tertinggi.

Aini lulus. Aini mulai berpikir untuk melanjutkan sekolahnya. Apakah ia akan melanjutkan ke SMA atau SMK? Ternyata orang tuanya memilih dia untuk bersekolah di SMA karena orang tuanya berkeinginan agar ia sampai ke jenjang S1 kelak. Aini pergi mendaftar bersama ayahnya. SMA 1 menjadi pilihannya. Setelah pendaftaran, Aini hanya menunggu hasil. Hari pengumuman pun tiba, Aini diterima di sekolah tersebut, ia senang, orang tua dan keluarganya pun sangat senang. Inilah awal Aini sebagai remaja dan menemukan dua cinta yang sangat sulit ia dapatkan dan lupakan.

1 komentar:

  1. I was a fool when loving someone, still love though is always ignored, I just want you to know that I would never have to wait to become a partner because I do not want to be old in uncertainty

    BalasHapus