Costum Search Enginge (CSE)

Loading

Minggu, 07 April 2019

Dua Sisi Wanita Karir

Saat seorang wanita menikah dan berganti status menjadi seorang istri, banyak hal yang harus dikerjakannya, semua urusan rumah tangga ada dipundaknya, sedangkan suami menganggap dirinya hanya bertugas mencari nafkah. Namun disaat seorang istri juga bekerja, seyogyanya sang suami pun harus bisa bekerja sama dengan istrinya untuk mengurus keperluan rumah tangga.
Aku seorang wanita bekerja, memiliki karirdan telah menikah, memiliki seorang bayi yang sungguh keras wataknya kurasa. Aku bekerja di rumah sakit dengan jadwal tiga shift, pagi, siang, malam. Saat aku pulang bekerja pagi, bertemu dengan anakku, sungguh senang rasanya, mengurus urusan rumah tangga pun tak terasa beratnya. Namun, saat sang suami tidak melakukan apapun hanya bisa memperhatikan dirinya sendiri, hati ini terasa jengkel sekali, kalau dibilang capek, saya juga lebih capek. Suami yang hanya bisa mengatakan "anakmu cuma mau sama kamu, tuh.. Udah aku gendong, dia tetap aja nangis, ga mau sama aku." Seakan yang punya anak hanya sang ibu, sedangkan ayah bisa dengan santainya duduk manis tanpa mau menenangkan anaknya yang menangis. Suami menyuruh bawa anak dinas, dia bisa tidur di rumah tanpa membantu pekerjaan istri, itu sungguh bisa membuat istrimu depresi pak. Kamu cuma bisa menjaga anak, saat anakmu senang, saat anakmu rewel, kamu ga bisa membantu malah beralasan anakmu butuh susu ibunya, bapak kan ga nyusui. 
Andai kamu suamiku paham bagaimana lelahnya aku, bagaimana aku kadang menyampaikan lelahku padamu, tapi kamu hanya menyalahkan aku dan menganggap aku perhitungan menjaga anak. 
Tolonglah mengerti suamiku, aku butuh perhatianmu bukan seperti penghargaan namun cukup kau memberikan perhatian romantis, membantu urusan rumah, memberikan kata-kata yang menyenangkan seperti kamu capek ya, udah istirahatlah dulu, anak aku yang jaga
Memeluk, memberikan kasih sayang
Ah.. Semua itu hanya didapat di awal pernikahan, setelah itu semuanya hanya berlaku bila diperlukan
Kadang aku berpikir apa salahku mendapat suami seperti ini, apa karena dulu aku orang yang cuek sehingga Tuhan memberikan aku suami yang ya hampir sama denganku. Sekarang aku cuma bisa berdoa semoga Tuhan memberiku kesehatan lahir dan batin, supaya aku bisa membesarkan anakku, tanpa ada sakit lahir maupun batin, untuk suamiku terserah kamu, semoga kamu berubah, jika tidak ya aku cuma bisa berkata Innalillahiwainnailahiroji'un

Tidak ada komentar:

Posting Komentar