Costum Search Enginge (CSE)

Loading

Kamis, 18 April 2019

Fenomena Selingkuh

Mendapat cerita hari ini tentang seorang wanita berjilbab syar'i yang berselingkuh dengan teman suaminya sendiri. Banyak orang menyalahkan dia karena mereka menganggap wanita tersebut lebih paham tentang agama, padahal mungkin dia baru belajar dan tidak ada dukungan dari sekelilingnya.
Jika pasangan berselingkuh, harusnya sebagai pasangan harus saling introspeksi diri, apa yang menyebabkan hal itu terjadi? 

Kurangnya kedekatan emosional risikonya lama-kelamaan pasangan dapat menjadi kurang menghargai keberadaan satu sama lain. Kurangnya rasa penghargaan inilah yang kemudian menjadi salah satu kunci utama pria membangun kedekatan emosional dengan orang lain yang bisa memberikannya penghargaan.

Berbeda dengan pria, pada wanita perselingkuhan sering bermula dari perasaan sendiri, tidak bahagia, dan merasa diabaikan oleh pasangan. Pada dasarnya, wanita menginginkan sosok yang mengaguminya, sehingga dia merasa menarik. Jika ia diabaikan oleh pasangannya, maka perselingkuhan menjadi cara bagi wanita untuk mendapat perhatian yang mereka inginkan dari pria lain.

Sebagai pasangan harus mengerti keinginan diri satu sama lain. Walaupun anda terkesan cuek, tapi cobalah untuk menjalin emosional yang lebih intim dengan pasangan anda. Bentengi diri dengan keimanan yang kuat, serahkan semua pada ilahi, jika anda merasa pasangan anda tidak menghargai anda lagi, curahkan emosional anda kepada Allah, hanya Allah lah tempat terbaik untuk mendapatkan solusi yang terbaik

Jadi.. Jangan salahkan penampilan agamais seseorang, tapi lihat dulu karateristiknya, kepribadiannya, dan faktor pendukungnya.
Itu. .😁

Minggu, 07 April 2019

Dua Sisi Wanita Karir

Saat seorang wanita menikah dan berganti status menjadi seorang istri, banyak hal yang harus dikerjakannya, semua urusan rumah tangga ada dipundaknya, sedangkan suami menganggap dirinya hanya bertugas mencari nafkah. Namun disaat seorang istri juga bekerja, seyogyanya sang suami pun harus bisa bekerja sama dengan istrinya untuk mengurus keperluan rumah tangga.
Aku seorang wanita bekerja, memiliki karirdan telah menikah, memiliki seorang bayi yang sungguh keras wataknya kurasa. Aku bekerja di rumah sakit dengan jadwal tiga shift, pagi, siang, malam. Saat aku pulang bekerja pagi, bertemu dengan anakku, sungguh senang rasanya, mengurus urusan rumah tangga pun tak terasa beratnya. Namun, saat sang suami tidak melakukan apapun hanya bisa memperhatikan dirinya sendiri, hati ini terasa jengkel sekali, kalau dibilang capek, saya juga lebih capek. Suami yang hanya bisa mengatakan "anakmu cuma mau sama kamu, tuh.. Udah aku gendong, dia tetap aja nangis, ga mau sama aku." Seakan yang punya anak hanya sang ibu, sedangkan ayah bisa dengan santainya duduk manis tanpa mau menenangkan anaknya yang menangis. Suami menyuruh bawa anak dinas, dia bisa tidur di rumah tanpa membantu pekerjaan istri, itu sungguh bisa membuat istrimu depresi pak. Kamu cuma bisa menjaga anak, saat anakmu senang, saat anakmu rewel, kamu ga bisa membantu malah beralasan anakmu butuh susu ibunya, bapak kan ga nyusui. 
Andai kamu suamiku paham bagaimana lelahnya aku, bagaimana aku kadang menyampaikan lelahku padamu, tapi kamu hanya menyalahkan aku dan menganggap aku perhitungan menjaga anak. 
Tolonglah mengerti suamiku, aku butuh perhatianmu bukan seperti penghargaan namun cukup kau memberikan perhatian romantis, membantu urusan rumah, memberikan kata-kata yang menyenangkan seperti kamu capek ya, udah istirahatlah dulu, anak aku yang jaga
Memeluk, memberikan kasih sayang
Ah.. Semua itu hanya didapat di awal pernikahan, setelah itu semuanya hanya berlaku bila diperlukan
Kadang aku berpikir apa salahku mendapat suami seperti ini, apa karena dulu aku orang yang cuek sehingga Tuhan memberikan aku suami yang ya hampir sama denganku. Sekarang aku cuma bisa berdoa semoga Tuhan memberiku kesehatan lahir dan batin, supaya aku bisa membesarkan anakku, tanpa ada sakit lahir maupun batin, untuk suamiku terserah kamu, semoga kamu berubah, jika tidak ya aku cuma bisa berkata Innalillahiwainnailahiroji'un